KabarJakarta.com – Langit biru tanpa awan tebal dan laut yang lebih tenang menjadi pemandangan yang akrab bagi para nelayan di pesisir Jakarta saat musim kemarau tiba. Bagi sebagian orang, kemarau identik dengan udara panas dan kekeringan. Namun bagi para nelayan, musim ini justru menjadi masa yang paling dinantikan karena hasil tangkapan ikan meningkat dan aktivitas melaut berlangsung lebih lancar.
Setiap pagi, perahu-perahu nelayan berangkat menuju perairan Teluk Jakarta dengan harapan membawa pulang tangkapan yang lebih banyak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Harapan itu bukan tanpa alasan. Kondisi alam selama musim kemarau memang menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi kehidupan berbagai jenis ikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa musim kemarau yang berlangsung cukup panjang memicu terjadinya fenomena upwelling atau pergerakan massa air dari lapisan bawah laut menuju permukaan.
Fenomena alam tersebut membawa nutrien yang kaya ke permukaan laut. Nutrien itu kemudian menjadi sumber makanan bagi plankton yang merupakan pakan alami berbagai jenis ikan.
“Kondisi tersebut membuat ketersediaan ikan pelagis kecil, seperti ikan teri, rajungan, dan udang rebon, menjadi lebih melimpah sehingga hasil tangkapan nelayan mengalami peningkatan,” kata Hasudungan di Jakarta, Selasa (4/8).
Melimpahnya ikan di laut menjadi kabar baik bagi nelayan karena peluang memperoleh hasil tangkapan lebih besar. Dengan hasil yang meningkat, pendapatan nelayan pun ikut terdongkrak sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga maupun menjadi tabungan menghadapi musim yang kurang bersahabat.
Tidak hanya menguntungkan bagi nelayan yang menangkap ikan, musim kemarau juga membawa manfaat bagi pelaku usaha pengolahan hasil perikanan. Cuaca cerah dengan intensitas sinar matahari yang tinggi membuat proses pengeringan ikan asin berlangsung lebih cepat.
Menurut Hasudungan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kualitas produk yang dihasilkan.
“Intensitas sinar matahari yang tinggi mempercepat proses pengeringan ikan asin sehingga kualitas produk lebih terjaga dan waktu produksi menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Proses pengeringan yang lebih singkat membuat risiko kerusakan ikan akibat cuaca lembap dapat ditekan. Selain menghasilkan produk yang lebih baik, pelaku usaha juga mampu meningkatkan kapasitas produksi karena waktu pengolahan menjadi lebih efisien.
Meski demikian, musim ikan yang melimpah tidak berlangsung sepanjang tahun. Hasudungan mengingatkan para nelayan agar tetap bersiap menghadapi perubahan musim yang biasanya terjadi pada akhir tahun.
Saat memasuki musim angin barat pada Desember hingga Februari, kondisi laut umumnya berubah drastis. Gelombang tinggi, angin kencang, dan cuaca ekstrem sering kali membuat aktivitas melaut menjadi berisiko. Pada periode tersebut, banyak nelayan memilih mengurangi aktivitas penangkapan ikan demi menjaga keselamatan.
Menurut Hasudungan, situasi seperti itu sudah menjadi siklus tahunan yang dipahami oleh masyarakat nelayan.
“Pengalaman yang dimiliki para nelayan membuat mereka telah terbiasa melakukan langkah antisipatif. Salah satunya dengan mengelola pendapatan yang diperoleh pada musim ikan agar dapat memenuhi kebutuhan selama masa paceklik,” katanya.
Kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan saat hasil tangkapan melimpah menjadi strategi penting bagi nelayan agar tetap mampu bertahan ketika cuaca tidak memungkinkan untuk melaut. Pengelolaan keuangan yang baik menjadi bagian dari pengalaman panjang mereka hidup berdampingan dengan perubahan musim.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya menjaga keberlanjutan sektor perikanan tangkap agar para nelayan tetap produktif sepanjang tahun. Melalui Dinas KPKP, berbagai program pembinaan rutin dijalankan untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan nelayan.
Hasudungan membeberkan pemerintah setiap tahun memberikan bantuan sarana usaha perikanan tangkap, pelatihan peningkatan kapasitas nelayan, hingga pendampingan agar produktivitas dan kemandirian mereka terus meningkat.
Selain itu, pemerintah juga memastikan kebutuhan operasional nelayan tetap terpenuhi, terutama terkait ketersediaan bahan bakar minyak bersubsidi yang menjadi salah satu komponen utama biaya melaut.
“Dinas KPKP terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan kuota dan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi nelayan tetap tersedia, tepat sasaran, dan mudah diakses, sehingga operasional penangkapan ikan dapat berjalan dengan baik sepanjang tahun,” paparnya.
Musim kemarau memang menghadirkan berkah bagi perairan Jakarta. Laut yang lebih tenang, ikan yang melimpah, serta aktivitas pengolahan hasil laut yang semakin lancar memberikan harapan bagi ribuan nelayan dan pelaku usaha perikanan. Namun di balik berkah tersebut, kesiapan menghadapi pergantian musim tetap menjadi kunci agar roda ekonomi masyarakat pesisir terus berputar sepanjang tahun.
