Harga Cabai Rawit Merah Menanjak, Kemarau dan Turunnya Luas Tanam jadi Biang Kerok

Laporan perkembangan harga oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, terjadi kenaikan baik di tingkat grosir maupun eceran, baik secara antarminggu maupun antarbulan. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com – Harga cabai rawit merah kembali membuat konsumen harus merogoh kocek lebih dalam. Di tengah kebutuhan rumah tangga yang tetap berjalan seperti biasa, harga komoditas yang identik dengan rasa pedas itu justru bergerak naik di pasaran.

Kenaikan tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah akibat terganggunya produksi dan pasokan cabai. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut ada beberapa faktor yang saling berkaitan di balik kenaikan harga tersebut.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan salah satu penyebabnya adalah berkurangnya luas tanam cabai rawit merah pada periode Februari hingga Juli 2026.

Menurut Hasudungan, luas tanam pada periode tersebut turun sekitar 14 persen. Dampaknya mulai terasa terhadap produksi yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga Desember 2026.

“Hal tersebut berimbas pada pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus 2026 yang turun 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton,” kata Hasudungan di Jakarta, Rabu.

Kemarau membuat tanaman cabai tertekan

Penurunan luas tanam bukan satu-satunya persoalan. Faktor alam juga ikut memainkan peran penting.

Memasuki puncak musim kemarau, tanaman cabai rawit merah menghadapi keterbatasan air. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan tanaman tidak berjalan optimal.

Tanaman yang kekurangan air akan lebih sulit berkembang. Bunga bisa rontok sebelum menghasilkan buah, sementara buah yang sudah tumbuh pun tidak berkembang maksimal.

Persoalan kemudian bertambah dengan munculnya serangan berbagai hama. Kutu kebul, thrips, tungau, hingga ulat menjadi ancaman bagi tanaman cabai.

Rangkaian masalah tersebut akhirnya berpengaruh pada jumlah cabai yang dapat dipanen. Ketika produksi menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap ada, pasokan di pasar ikut tertekan. Pada akhirnya, kondisi tersebut tercermin dalam kenaikan harga.

Harga di pasar terdorong naik

Kenaikan harga cabai rawit merah terlihat cukup jelas dalam perdagangan.

Di tingkat grosir, harga cabai rawit merah dalam satu minggu meningkat 26,22 persen. Kenaikan tersebut setara dengan Rp10.714 per kilogram, sehingga harganya mencapai Rp51.571 per kilogram.

Sementara di tingkat eceran, kenaikannya mencapai 8,13 persen atau sekitar Rp4.919 per kilogram. Harga cabai rawit merah kemudian berada di kisaran Rp65.426 per kilogram.

Jika dibandingkan secara bulanan, kenaikan juga terlihat. Harga di tingkat grosir meningkat 30,56 persen menjadi Rp41.686 per kilogram. Adapun harga eceran naik 3,03 persen menjadi Rp60.153 per kilogram.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan cabai tidak sekadar terjadi di tingkat petani. Gangguan produksi kemudian merambat ke rantai distribusi dan akhirnya dirasakan langsung oleh konsumen.

Bagi rumah tangga, kenaikan harga cabai mungkin terlihat sebagai persoalan kecil dibandingkan komoditas pangan utama. Namun bagi pedagang makanan dan pelaku usaha kuliner, cabai merupakan salah satu bahan yang sulit dilepaskan dari kegiatan sehari-hari.

Jakarta Siapkan pasokan dari pertanian perkotaan

Pemprov DKI Jakarta tidak hanya mengandalkan pasokan dari sentra produksi di luar daerah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan pertanian perkotaan untuk membantu menjaga ketersediaan cabai.

Sepanjang 2026, lahan yang ditanami cabai rawit merah di Jakarta mencapai 11,46 hektare. Dari lahan tersebut, produksi yang telah dihasilkan mencapai 45,59 ton.

Upaya lain dilakukan melalui pelatihan diversifikasi olahan cabai dan bawang yang digelar di seluruh kota dan kabupaten administrasi. Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat tidak hanya dalam produksi, tetapi juga dalam mengolah komoditas pangan sehingga memiliki nilai tambah.

Di sisi hilir, Pemprov DKI melalui Perumda Pasar Jaya juga menyediakan cabai rawit merah dalam kegiatan pangan murah keliling.

Langkah tersebut menjadi salah satu cara pemerintah menjaga agar masyarakat tetap bisa memperoleh cabai dengan harga yang lebih terjangkau ketika harga pasar sedang bergejolak.

Namun, persoalan cabai menunjukkan bahwa kestabilan harga pangan sangat bergantung pada banyak hal. Luas lahan, ketersediaan air, serangan hama, biaya produksi, hingga distribusi memiliki kaitan satu sama lain.

Di tengah perubahan kondisi cuaca dan tekanan biaya produksi, menjaga harga cabai tetap stabil bukan pekerjaan sederhana. Bagi konsumen, harapannya sederhana: cabai tetap tersedia dan harganya tidak terus melambung.

Exit mobile version