BNPB Tegaskan Anak Krakatau Masih Siaga, Pencarian Lima Jurnalis Terus Berlanjut

Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). Foto: Badan Geologi KESDM

KabarJakarta.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut tetap berlaku karena aktivitas vulkanik gunung api itu masih menunjukkan potensi erupsi lanjutan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan penetapan status Siaga mengacu pada hasil analisis Badan Geologi terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Berdasarkan perkembangan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap di Level III (Siaga). Probabilitas terjadinya letusan pada beberapa periode waktu selanjutnya, dinilai masih tinggi,” kata Berton di Jakarta, Jumat (11/9).

Menurut dia, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang mengalami perubahan dalam beberapa hari terakhir. Periode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam sejak 4 September telah berakhir.

Namun, aktivitas gunung api tersebut belum sepenuhnya berhenti. Gunung Anak Krakatau kini memasuki fase erupsi Strombolian episodik. Hingga Jumat pagi, tercatat sudah terjadi 14 kali erupsi dalam fase tersebut.

Aktivitas magma masih berlangsung

Evaluasi terhadap aktivitas kegempaan juga menjadi salah satu dasar pemantauan kondisi Gunung Anak Krakatau. BNPB mencatat gempa vulkanik dangkal mengalami penurunan. Namun, kondisi berbeda terlihat pada gempa vulkanik dalam yang justru meningkat.

Kenaikan gempa vulkanik dalam menjadi perhatian karena dapat menunjukkan masih adanya suplai magma dari kedalaman menuju tubuh gunung api.

Berdasarkan hasil pengamatan pada 10-11 September 2026, tercatat satu kali gempa erupsi, 21 kali gempa Low Frequency, 13 kali gempa Hybrid, 28 kali gempa Vulkanik Dangkal, dan 18 kali gempa Vulkanik Dalam. Selain itu, masih terpantau tremor menerus.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak menganggap aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah aman hanya karena erupsi menerus sebelumnya telah berakhir.

BNPB menyebut sejumlah potensi bahaya masih harus diwaspadai. Ancaman tersebut antara lain lontaran batu pijar, hujan abu dengan intensitas lebat, serta aliran lava apabila kembali terjadi erupsi secara menerus.

Karena itu, masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

BNPB juga meminta masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang. Warga diimbau tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dan tidak mudah mempercayai informasi mengenai potensi tsunami yang dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Informasi mengenai tsunami, kata BNPB, sebaiknya hanya dipercaya jika berasal dari kanal resmi pemerintah.

Pencarian 5 jurnalis masih dilakukan

Di tengah status Siaga Gunung Anak Krakatau, operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi masih terus dilakukan.

Pada hari keempat pencarian, Tim SAR gabungan kembali menemukan sebuah pelampung atau life jacket.

Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengungkapkan KAL Anyer berangkat dari Dermaga Pelindo Ciwandan sekitar pukul 09.00 WIB untuk melakukan pencarian. Sekitar pukul 14.45 WIB, kapal tersebut menemukan sebuah life jacket berwarna oranye.

Setelah menemukan benda tersebut, KAL Anyer kembali ke Dermaga Ciwandan. Pelampung kemudian diserahkan kepada tim Kantor SAR yang berada di Posko Anjungan untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani menjelaskan pelampung tersebut ditemukan di sebelah timur Gunung Anak Krakatau, dengan jarak sekitar 16,2 mil laut.

Meski menjadi temuan dalam operasi pencarian, pelampung tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan delapan orang yang hilang. Selanjutnya, benda yang ditemukan itu langsung diserahkan kepada tim Basarnas untuk kemudian diperiksa oleh Polairud dan Polri.

Pelampung sebelumnya bukan milik kapal

Sebelumnya, Polda Banten memastikan dua alat keselamatan yang ditemukan dalam operasi pencarian hari ketiga, Kamis (10/9), bukan milik kapal yang digunakan rombongan jurnalis.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menjelaskan life jacket berwarna oranye dan pelampung berwarna putih yang ditemukan sebelumnya tidak termasuk perlengkapan keselamatan Kapal Arupadhatu 1.

Keterangan tersebut juga diperkuat oleh Sandi, pemilik Kapal Arupadhatu 1. Setelah dimintai keterangan oleh aparat, Sandi memastikan kedua benda tersebut bukan perlengkapan keselamatan milik kapalnya.

Menurut Sandi, kapal yang disewakan kepada rombongan jurnalis telah dilengkapi peralatan keselamatan. Jumlah life jacket di kapal tersebut juga lebih dari 10 buah dengan warna yang beragam.

Karena itu, setiap temuan dalam operasi SAR masih harus melalui proses identifikasi sebelum dapat dikaitkan dengan kapal atau korban yang dicari.

13 kapal dikerahkan

Operasi pencarian terhadap 5 (lima) jurnalis dan tiga awak kapal pada hari keempat melibatkan kekuatan yang lebih besar. Basarnas mengerahkan 13 kapal dan membagi wilayah pencarian ke dalam empat sektor.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyebut sejumlah unsur yang dikerahkan antara lain KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR Basudewa, KRI Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RBB P Peucang, RIB Lampung, KAL Pahowang, TB Gunung Santri, dan KRI Lepu.

Seluruh unsur tersebut melakukan pencarian di sejumlah titik yang telah ditentukan dalam operasi SAR.

Peristiwa hilangnya rombongan bermula pada Senin (7/9). Saat itu, lima jurnalis berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB.

Mereka menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik. Namun, kapal kemudian hilang kontak.

Lima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita Antara; Ari Basuki, pewarta foto Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, pewarta foto iNews.id; Firdaus Wajidi, jurnalis Kantor Berita Anadolu; serta Donal Husni, pewarta foto lepas.

Selain lima jurnalis, terdapat tiga orang lainnya di dalam kapal, yakni nakhoda, anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu.

Hingga kini, operasi pencarian masih berlangsung. Tim SAR terus menyisir wilayah perairan Selat Sunda, sementara kondisi Gunung Anak Krakatau juga tetap dipantau karena status aktivitasnya masih berada pada Level III atau Siaga.

Dua situasi tersebut membuat kewaspadaan tetap menjadi prioritas, baik bagi tim penyelamat maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar perairan Banten dan Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *